Kisah Bos Samsung Indonesia Putuskan Jadi Mualaf

KILASINFO.ID
22 November, 2021 | 10:33 AM WIB Last Updated 2021-11-22T03:33:28Z

KILASINFO.ID ■ Jakarta - Netizen Indonesia kini ramai membincangkan sosok Lee Kang Hyun, mantan vice president Samsung Indonesia yang berbagi kisah mualafnya.

Kisah Lee Kang Hyun bahkan sempat trending dilaman twitter. Dalam sebuah almanak yang diterima redaksi, terajut kenangan  Lee Kang Hyun pada Indonesia, kemudian banyak disadur oleh netizen lewat cerita-cerita dari teman surat penanya yang tinggal di Aceh.

Lee Kang Hyun memulai kisahnya pada tahun 1989, ia memutuskan untuk mengunjungi temannya di Aceh.

Selama tinggal di Aceh, ia disambut dengan kemeriahan dan keramahan keluarga sahabat penanya itu hingga ia betah berlama-lama di Indonesia.

Tradisi dan budaya Aceh yang ramah akhirnya membawa Eks Vice President Samsung Indonesia, Lee Kang Hyun makin  mantap memilih untuk menjadi seorang mualaf.

Selain itu, alasan dirinya memilih untuk menjadi mualaf karena dia sangat cinta dengan Indonesia melalui ajang pena.

Sebelumnya, diungkap Lee bahwa punya sahabat pena dan kebetulan saja sahabatnya itu merupakan Warga Negara Indonesia.

Pada tahun 1989, Lee sempat mengunjungi sahabat pena-nya itu di Aceh. Keluarga sahabatnya itu menyambut dirinya dengan sangat hangat dan sangat ramah sehingga dia betah tinggal di Indonesia.

Ungkapan itu disampaikannya di sebuah konten video yang diunggah oleh kanal YouTube Ilham TV.

“Ketika pulang ke Korea, mereka selalu muncul dalam mimpi saya. Benar-benar ingat terus,” kata Lee.

Lee yang sebelumnya belum fasih berbahasa Indonesia pada akhirnya memutuskan untuk mempelajarinya.

Lebih hebatnya lagi, Lee sampai-sampai memutuskan untuk mengambil pendidikan khusus satu bulan di Universitas Indonesia (UI).

Kemudian pada tahun 1991, Lee akhirnya bekerja di Samsung dan mendapat kesempatan untuk mengambil bagian di Samsung Indonesia.

Meski sudah sukses, Lee merasa ada sesuatu yang kurang dan belum banyak hal yang diketahuinya. Hal tersebut tentang pengetahuannya tentang Agama Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.

“Agama di sini (Indonesia) sudah menjadi bagian kehidupan. Berbeda sekali dengan di Korea. Di Korea, mayoritas memilih tidak beragama dan hal itu tidak jadi masalah,” paparnya.

Sejak saat itu, sahabat Lee pun akhirnya mengenalkan dan mengajarkannya tentang Islam.

Sekian lama mengamati budaya dan tradisi religius rakyat Aceh, Lee kemudian merasa tertarik mempelajari Islam karena ada ayah dari sahabatnya yang selalu mengajarkan ilmu agama melalui pengajian.

Bukan hanya itu saja, ibu dari sahabat Lee ternyata juga seorang pendiri panti asuhan.

Sejak saat itu, Lee secara pribadi memutuskan untuk memperdalam ilmu tentang Agama Islam.

“Jadi, saya benar-benar melihat sendiri bagaimana Muslim berperilaku. Kemudian saya diajari sholat.” ucapnya.

Pada tahun 1994, Lee akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang mualaf dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.

Menurut Lee, menjadi seorang pemeluk agama Islam bukan suatu hal yang mudah.

Salah satu hal yang sulit Lee pelajari sebagai seorang mualaf yakni adalah dia harus menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Meski begitu perlahan-lahan Lee bisa terbiasa dengan ajaran itu karena teman-temannya di Korea bisa sangat menghormatinya.

Simak kisah Lee lebih lanjut di Kilas TV.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kisah Bos Samsung Indonesia Putuskan Jadi Mualaf

Trending Now

Iklan