Tak Kalah Bersaing, Sapu Ijuk Tradisional asal Kampung Garung Kota Sukabumi tetap Jadi Idola Ibu-ibu

KILASINFO.ID
08 Maret, 2022 | 2:32 PM WIB Last Updated 2022-03-08T07:32:02Z

Sapu ijuk tradisional tidak tergantikan produk pabrik. (istimewa)

SUKABUMI, KILASINFO.id - Meski sapu ijuk dibuat secara tradisional, ternyata tetap tidak surut tergantikan oleh produk buatan pabrik. Kerajinan secara tradisional di Kampung Garung, Desa Karang Tengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, tetap berani bersaing dengan produk serupa yang dibuat secara modern karena kualitasnya yang terjaga.

"Sapu ijuk produksi Sinar Paut ini memang pembuatannya sangat tradisional, tetapi kualitasnya tidak kalah dengan sapu rayung dan bahan baku plastik yang lebih modern," ungkap Agus Supardi (35) salah satu karyawan Sinar Paut.

Ia mengatakan hingga saat ini sapu ijuk produk  Sinar Paut masih tetap digemari konsumen walaupun sudah 20 tahun berjalan karena kualitasnya yang tetap baik dengan harga yang bervariasi dan relatif murah, antara Rp 3.600 - Rp 9.000 per batangnya.

"Sapu ijuk produksi Kampung Garung harganya sangat murah dan terjangkau oleh masyarakat, tetapi sapu-sapu modern yang dijual di toko-toko lebih mahal," kata Agus.

Agus menambahkan, permintaan pasar terhadap sapu ijuk di sentra kerajinan daerah setempat, terus mengalami peningkatan. Kemampuan produksi kerajinan rumah tangga itu, katanya, rata-rata 1500 batang per hari.

Produk sapi ijuk dari kampung setempat dipasok ke seluruh Sukabumi dan luar Sukabumi seperti Karawang dan Bekasi.

Sebagian besar warga setempat menjadi perajin sapu ijuk. Jumlah perajin saat ini sekitar 250 orang. Di antara mereka ada yang secara khusus menjadi penyedia batang sapu ijuk terbuat dari kayu.***

Ade Yosca

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tak Kalah Bersaing, Sapu Ijuk Tradisional asal Kampung Garung Kota Sukabumi tetap Jadi Idola Ibu-ibu

Trending Now

Iklan