Vihara Widhi Sakti, Identitas Warga Etnis Tionghoa di Sukabumi berusia 100 Tahun

KILASINFO.ID
18 Maret, 2022 | 1:42 PM WIB Last Updated 2022-03-18T06:42:40Z

 

Vihara Widhi Sakti. Foto: Vihara Widhi Sakti Sukabumi

SUKABUMI, KILASINFO.id - Vihara Widhi Sakti yang berada di Jalan Pejagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, awalnya bernama Kelenteng Bie Hian Kong merupakan identitas dari warga etnis Tionghoa yang ada di Sukabumi, usianya sudah lebih dari 100 tahun sejak pertama kali dibangun tahun 1912 silam. 

Melansir situs Soekaboemi History, dalam vihara ini ada tiga altar utama, yakni altar Kongco Han Tan Kong, Sang Buddha dan Dewi Kwan Im. Alasan di bangunnya Vihara ini karena adanya serangan penyakit Kolera yang sangat mewabah di tahun 1908 dan tahun-tahun sebelumnya di Sukabumi.

Dalam vihara ini ada tiga altar utama, yakni altar Kongco Han Tan Kong, Sang Buddha dan Dewi Kwan Im. Alasan di bangunnya Vihara ini karena adanya serangan penyakit Kolera yang sangat mewabah di tahun-tahun sebelumnya di Sukabumi dengan harapan saat itu dengan berdirinya kelenteng di Sukabumi, maka akan tersedia tempat untuk berdoa khususnya agar terhindar dari wabah dan bencana.

Pada awalnya, posisi vihara bersatu antara tempat yang sekarang menjadi tempat pertunjukkan wayang potehi yang berada di depan vihara dan bangunan yang kini menjadi vihara serta tidak terbelah jalan serta menjadi satu lahan. Karena wilayah odeon dibangun jalan seiring dengan pembangunan Slatchthuis atau Rumah Potong Hewan, maka posisi ruang altar yang sering dijadikan tempat pertunjukkan wayang potehi tersebut kemudia dimundurkan.

Menurut ceritera yang berkembang saat itu, pada waktu Cap Go Meh ketika patung Kongco Han Tan Kong digotong ada seorang nenek kemasukan roh Han Tan Kong. Roh itu meminta agar Bio (vihara) dipindahkan dan ketika ditanya oleh pengurus viahara bio kong lalu tangan nenek itu menunjuk ke seberang ke lokasi yang menjadi vihara sekarang namun informasi yang sebenarnya bahwa altar pemujaan dahulunya bersatu dengan vihara dan terpisahkan karena adanya pembangunan jalan. 

Tenggal perayaan Cap Go Meh dikenal dengan "Jie Cap" yaitu 20 bulan 1 imlek dan "Ji It" 21 bulan 1 imlek. Cap Go Meh belakangan identik dengan hari digotongnya kongco yaitu "Ji It". Itulah  yang menjadi penyebab di sukabumi Cap Go Meh disebut dengan  "JI It Meh"

"Saat ini ada pengurus Vihara yg dipilih 3 tahun sekali yang dipercaya mampu mengelola dana dari ummat Buddha asal Sukabumi yang sudah tersebar ke seluruh Nusantara & Mancanegara," kata Humas Yayasan Vihara Widhi Sakti Sukabumi Arieffin Natawidjaja, dikutif Soekaboemi History.

Masyarakat China keturunan atau yang lebih dikenal dengan kaum Tionghoa di Sukabumi merayakan Tjap Go Meh (Cap Go Meh) atau Ji It Meh dengan sangat meriah, dengan berbagai pertunjukan seperti Wayang Potehi dan pertunjukan Barongsai hingga kembang api bahkan lontong Cap Go Meh pun tak ketinggalan selalu meriahkan acara pada kesempatan perayaan Imlek. Setiap ada acara perayaan Imlek, maka masyarakat Sukabumi ikut antusias menyambut dengan penuh suka cita. 

Perpaduan budaya tersebut adalah menjadi ciri bahwa keberagaman budaya dan adat istiadat telah tertanam kuat di Sukabumi serta keserasian antar umat beragama tersebut sudah sedemikian terjalin sangat erat di Sukabumi dan sekitarnya sehingga keberadaan kaum Tionghoa tersebut telah berbaur serta telah beratus-ratus tahun lamanya di Sukabumi tersebut kian menyemarakkan ke-bineka tunggal ika-an di Indonesia dan mempererat persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.*

Ade Yosca

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Vihara Widhi Sakti, Identitas Warga Etnis Tionghoa di Sukabumi berusia 100 Tahun

Trending Now

Iklan