Gara-gara Pandemi, Montir Bengkel ini Alih Profesi jadi Petani Sayur

KILASINFO.ID
17 Mei, 2022 | 2:50 PM WIB Last Updated 2022-05-17T07:54:37Z

“Sebelumnya kerja di bengkel mobil. Setiap hari kerja dari pagi sampai sore, lama kelamaan jenuh dengan rutinitas itu. Tapi faktor utamanya sih karena kondisi bengkel sepi dan adanya pengurangan karyawan, karena itulah saya memutuskan untuk jadi petani”

 

Angga Irawan, saat melakukan aktivitasnya di kebun sayur. |Foto: Istimewa

 SUKABUMI, KILASINFO - Di salah satu perkampungan belakang Perumahan Taman Asri Ciaul, Kota Sukabumi, tepatnya di Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, tampak area perkebunan dipenuhi tanaman sayur mayur.

 

Beberapa orang terlihat sedang memanen buah yang akrab dijadikan lalapan tersebut, seperti timun, tomat dan cabe rawit. Satu di antaranya yakni Angga Irawan (34) yang lebih memilih jadi petani ketimbang kerja di bengkel mobil.

 

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Angga tersebut sudi berbagi kisah hidupnya selama jadi petani. Dia mengatakan, menekuni pekerjaan jadi petani sejak tujuh bulan yang lalu. Sebelumnya, ia mengaku kerja di bengkel mobil. Namun, karena kondisi pandemi yang melanda selama lebih dari dua tahun itu Angga memutuskan untuk jadi petani.

 

“Sebelumnya saya kerja di bengkel mobil. Setiap hari kerja dari pagi sampai sore, lama kelamaan kok jadi jenuh dengan rutinitas tersebut, tapi faktor utamanya sih karena kondisi bengkel yang terbilang sepi dan adanya pengurangan karyawan. Karena itulah saya memutuskan untuk jadi petani,” ujar Angga.

 

Menurutnya, jadi petani itu lebih santai. Bisa tidur sewaktu-waktu, serta bisa main ke mana saja tak terkekang dengan kerjaan. Yang terpenting kata dia, di kebun ada pekerja yang merawat tanamannya. Jadi bisa dianggap seperti seperti pengusaha.

 

“Enaknya jadi petani itu lebih santai. Ingin tidur bisa sewaktu-waktu, mau main ya bisa tidak ada yang memarahi. Yang penting kan ada pekerja di kebun yang merawat tanaman. Pokoknya lebih santailah, tapi hasilnya gak kalah,” paparnya.

 

Masih kata Angga, ia belajar bercocok tanam seperti sekarang adalah hasil otodidak. "Otodidak saja saya belajar semuanya, tidak hanya sekarang saya sebagai petani tapi pas bekerja di bengkel pun saya belajar otodidak tidak ada pelatihan khusus," katanya.

 

Sistem pemasaran yang dipakai Angga adalah personal selling, dimana produknya dipasarkan secara langsung bertatap muka dengan calon pembeli atau manajemen pemasaran biasanya akan menentukan tempat-tempat tujuan dan pasar yang strategis.

 

"Kalau saya sih pemasarannya langsung kita jual ke pasar tanpa lewat perantara atau tengkulak," jelasnya.

 

Berbicara soal modal, ia mengeluarkan modal awal sebesar Rp4 juta untuk membeli bahan kebutuhan pertaniannya, dan sekira kurang lebih tujuh bulan berjalan, alhasil omset yang didapatkan adalah Rp7-8 juta per 40 hari.

 

"Alhamdulillah, walaupun modal tidak besar dan dengan modal tekad yang kuat, sekarang saya mendapatkan omset Rp7-8 juta dari hasil panen timun, karena sayuran yang lainnya belum panen," tambahnya.

 

Melihat perkembangan tersebut, ia mengajak para generasi muda untuk terjun di dunia pertanian. Sebab, sebenarnya jadi petani itu mirip pengusaha, tidak ada yang memerintah karena milik sendiri. Lebih santai dan hasilnya pun menggiurkan, dibanding kerja ikut orang lain.

 

“Harapannya semoga generasi muda tidak memandang sebelah mata dunia pertanian. Sebab sebenarnya, hasil di dunia pertanian itu lebih menjanjikan,” pungkasnya.***

 

Ade Yosca

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gara-gara Pandemi, Montir Bengkel ini Alih Profesi jadi Petani Sayur

Trending Now

Iklan