| Foto: Dok. (Awaludin) Sejumlah bantuan sosial yang sebelumnya diterima keluarga Badrudin dan Hilda Damayanti di Kampung Cibedug RT 01/RW 01, Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, kini terhenti |
KILAS INFO | BOGOR - Sejumlah bantuan sosial yang sebelumnya diterima keluarga Badrudin dan Hilda Damayanti di Kampung Cibedug RT 01/RW 01, Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, kini terhenti.
Persoalan itu menjadi perhatian karena di rumah keluarga tersebut masih terpasang stiker Kementerian Sosial dan Dinas Sosial Kabupaten Bogor yang mencantumkan nama Hilda Damayanti sebagai penerima bantuan sosial.
Pada stiker tersebut tertulis “KELUARGA MISKIN – PENERIMA BANSOS”. Di dalamnya tercantum sejumlah program bantuan, antara lain PKH, Sembako, KIP, dan PBI. Stiker itu juga memuat keterangan, “Mohon stiker ini jangan dilepas, jika dilepas dianggap mengundurkan diri dari kepesertaan.”
Namun, keberadaan stiker tersebut tidak berbanding lurus dengan kondisi bantuan yang diterima keluarga.
Menurut keluarga, PKH, bantuan pangan atau sembako, serta bantuan pendidikan untuk anak kini berstatus tidak lagi diterima atau exclude. Sementara itu, kepesertaan BPJS PBI-JK milik Badrudin masih aktif.
Badrudin merupakan penyandang disabilitas yang masih menjalani pengobatan akibat luka pada kakinya. Ia secara berkala harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan jalan di salah satu rumah sakit di Kota Bogor.
Dengan masih aktifnya kepesertaan BPJS PBI-JK, Badrudin tetap dapat memperoleh layanan kesehatan. Namun, terhentinya sejumlah bantuan sosial membuat kondisi ekonomi keluarganya semakin berat.
Di tengah keterbatasan fisik, Badrudin berusaha membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan beternak ayam kampung.
Ia berharap penghentian bantuan tersebut dapat ditinjau kembali, terutama karena menurutnya persoalan yang memengaruhi status bantuan berkaitan dengan anggota keluarga lainnya.
“ Kami bersyukur BPJS kesehatan kami masih aktif, jadi saya tetap bisa berobat dan kontrol ke rumah sakit seperti biasa. Tapi sungguh berat rasanya ketika PKH, bantuan sembako, serta bantuan anak semuanya terhenti sekaligus. Padahal bukan saya maupun istri yang melanggar, melainkan anak yang tanpa sadar ikut hal yang akhirnya berdampak ke seluruh data keluarga kami. Kalau bisa ada jalan lain—jangan putus semua bantuan sosial kami, karena kami masih sangat membutuhkannya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari," ujarnya Rabu (26/8/2026).
Nama Masih Tercantum sebagai Penerima
Hilda Damayanti, istri Badrudin, masih tercantum dalam stiker yang terpasang di rumah mereka sebagai penerima bantuan.
Menurut Hilda, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan karena identitasnya masih tercatat pada stiker penerima bansos, sementara bantuan yang selama ini menjadi salah satu penopang kebutuhan keluarga tidak lagi diterima.
Terlebih, ia harus mendampingi suaminya yang masih membutuhkan perawatan medis sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
“ Di sana tertulis jelas nama saya penerima bantuan, tapi kenyataannya kami tak lagi menerima bantuan sosialnya. Bagaimana kami bertahan merawat suami dan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari kalau sandaran hidup perlahan hilang? Saya berharap keadilan segera datang bagi keluarga kami," tuturnya.
Keluarga Badrudin dan Hilda berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait memberikan penjelasan mengenai perubahan status bantuan tersebut.
Mereka juga meminta agar data kepesertaan keluarga diperiksa kembali untuk memastikan penyebab terhentinya bantuan, termasuk apakah perubahan status tersebut berkaitan dengan kondisi salah satu anggota keluarga atau faktor lain dalam sistem pendataan bantuan sosial.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak Dinas Sosial Kabupaten Bogor mengenai status bantuan keluarga tersebut serta dasar perubahan status penerimaannya.
Awaludin

