Iklan

iklan

Bekas Tambang Menganga Sejak 1985, Negara Absen: Warga Rumpin Swadaya Turap Cisadane 20 Meter

KilasInfo.id
Sabtu, 12 September 2026 | 6:22 PM WIB Last Updated 2026-09-12T11:26:41Z
Foto: Dok. (Yunus) Warga Kampung Panyabrangan RT 04-05 RW 02, Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, dipaksa menyelamatkan lingkungannya sendiri. Bersama PT CI, mereka memulai pembangunan turap darurat di bantaran Sungai Cisadane, Sabtu (12/9/2026), untuk menahan erosi yang mengancam longsor

KILAS INFO | BOGOR - Warga Kampung Panyabrangan RT 04-05 RW 02, Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, dipaksa menyelamatkan lingkungannya sendiri. Bersama PT CI, mereka memulai pembangunan turap darurat di bantaran Sungai Cisadane, Sabtu (12/9/2026), untuk menahan erosi yang mengancam longsor.

Inisiatif swadaya ini lahir dari kekosongan. Tuntutan warga sejatinya adalah penanganan sepanjang 500 meter, namun yang mampu direalisasikan baru 20 meter. Proyek tersebut merupakan tindak lanjut musyawarah Jumat (11/9/2026) di lokasi yang berbatasan dengan Desa Rumpin.

Pekerjaan dimulai dengan perakitan bronjong wiremesh yang akan diisi batu, dilanjutkan pekerjaan cut and fill menggunakan alat berat. Titik paling rawan, yakni lingkungan pondok pesantren, menjadi prioritas utama.

Kesenjangan antara kebutuhan dan realisasi diakui tokoh masyarakat, Muhyi Burik.

" Pihak perusahaan (PT. CI) telah membantu menurunkan alat berat eksavator. Sebenarnya tuntutan warga terdampak yaitu sepanjang kurang lebih 500 meter wilayah bantaran sungai Cisadane yang terkena erosi atau longsor," ungkapnya.

" Kami berharap pihak perusahaan dan pihak pemerintahan untuk melaksanakan penanganan kerusakan lingkungan tersebut sampai selesai dilakukan sesuai kondisi yang ada saat ini," katanya.

Absennya negara dalam krisis ekologis ini ditegaskan oleh perwakilan PT CI yang juga Ketua RW 09, Jaro Dede.

" Pengerjaan ini murni dilakukan secara swadaya masyarakat dibantu oleh pihak perusahaan," ungkapnya.

" Sejauh ini belum ada campur tangan dari pihak pemerintahan manapun. Adapun kendala terhadap pelaksanaan pekerjaan yaitu mencari material batu untuk mengisi wiremesh besi sepanjang 20meter," jelasnya.
Foto: Dok. (Yunus) Ancaman paling nyata dirasakan Pondok Pesantren. Bibir sungai yang terus tergerus tinggal hitungan meter dari bangunan

Ironi semakin pekat jika menengok sejarah lokasi. Menurut kesaksian tokoh masyarakat, bantaran yang terancam itu adalah bekas tambang pasir dan batu sejak 1985 yang ditinggalkan puluhan tahun tanpa reklamasi. Lubang menganga warisan tambang itulah yang kini menjadi biang kerusakan. Perusahaan yang sama dikabarkan akan kembali menggarap lahan tersebut, dengan syarat dari warga: pulihkan dulu kerusakan yang ada.

Ancaman paling nyata dirasakan Pondok Pesantren. Bibir sungai yang terus tergerus tinggal hitungan meter dari bangunan.

Sesepuh ponpes, Abuna, pun angkat suara.

" Sangat mendukung sekali terhadap kegiatan ini dimana kegiatan tersebut sangat bermanfaat sekali karena untuk mencegah erosi yang berkelanjutan yang sedikit lagi bibir sungai Cisadane mencapai bangunan pondok pesantren," katanya.

Turap 20 meter ini bukan prestasi, melainkan alarm keras atas abainya tanggung jawab reklamasi pascatambang dan lambatnya negara hadir saat warganya berada di tepi jurang.

Reporter: Yunus
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bekas Tambang Menganga Sejak 1985, Negara Absen: Warga Rumpin Swadaya Turap Cisadane 20 Meter

Trending Now

Iklan

iklan